by: mift ns
Judul Novel : Rahasia Meede
Penulis : Penulis E.S. ITO
Penerbit : Hikmah (Mizan)
Terbit : Cet I, September 2007, Cet II, Oktober 2007
Tebal : 673 Halaman
Membayangkan ES ITO dalam kemisteriusannya. Seseorang yang dingin, tanpa ekspresi, sinis dan sarkastik tetapi tekun menghasilkan karya. Bila sebelumnya, identitasnya hanya bisa dikenal lewat kata-kata, “Ibunya seorang petani, bapaknya seorang pedagang”, pada novel yang sekarang ini ia lumayan mengungkapkan identitas. Halaman persembahannya penuh dengan nama keluarga. Ucapan terima kasihnya membentang dari Siritubui di Mentawai hingga Thaha Al Hamid di Papua . Tetapi ia tetap tidak ingin dikenali, menyingkir dari arus popularitas.
Novel kedua berjudul Rahasia Meede ini layaknya utang yang dibayar tuntas ITO terhadap banyak kritikan pada novel pertamanya, Negara Kelima. Keterburuan-buruan, kekurangdetailan, ketidakakuratan data sejarah serta bahasa yang monoton pada Negara Kelima tidak akan kita temui lagi dalam Rahasia Meede. Terang saja begitu sebab novel tebal ini diselesaikan ITO dalam tempo waktu dua tahun (lihat bagian bawah halaman terima kasih, Depok Juli 2005-Demta Papua Juli 2007). Ia tidak lagi menunjukkan Minangsentris tetapi Indonesia dalam multikultur.
Plot cerita ia bagi dalam beberapa bagian yang pada awalnya tampak tidak saling berhubungan. Prolognya dibuka dengan persidangan konferensi meja bundar tahun 1949, perdebatan antara Sumitro dan Hatta menjelang penyerahan kedaulatan. Di masa kini seorang wartawan bernama Batu terdampar di Boven Digoel menyelidiki penemuan mayat seorang pejabat penting yang merupakan bagian dari rentetan pembunuhan elit Indonesia. Saat yang sama tiga orang peneliti dari Amsterdam tengah melakukan penggalian di bawah museum sejarah Jakarta, mereka ingin menemukan de Ondergrondse Stad, kota bawah tanah. Sementara itu seorang mahasiswa dari universitas Leiden, Cathleen Zwinckel baru saja tiba di Jakarta. Tujuannya menyelidiki kebenaran cerita tentang harta karun VOC di arsip nasional RI. Di tengah-tengah pengungkapan sejarah itu, muncul sosok guru misterius di pinggir kota Jakarta. Guru Uban, sosok itu seorang brachmacari dan vegetarian, menolak semua kesenangan dunia.
Tiap plot ini berjalan lewat temali logika cerita yang mengagumkan. Batu, warrtawan harian Indonesiaraya, terdampar hingga pulau Siberut, Mentawai untuk menyelidiki misteri pembunuhan dengan pesan tujuh dosa sosial Gandhi. Misteri tato tradisional Mentawai menguak misteri pembunuhan. Tiga orang peneliti Belanda terjebak dalam plot pembunuhan jauh di bawah permukaan Jakarta. Sementara Cathleen Zwinckel mendapati dirinya diculik kemudian disekap di kampung Walang, kepulauan Banda. Seorang bajingan anarkis bernama Kalek memiliki kepentingan terhadap Cathleen Zwinckel.
Dalam perburuan menemukan Cathleen Zwinckel muncullah sosok Lalat Merah, seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus. Bintang yang sedang menanjak dalam dunia intelijen Indonesia. Kenyataan pahit yang mesti ia hadapi bahwasanya, bajingan anrkis yang ia buru adalah teman masa lalunya di SMA Taruna Nusantara. Perburuan dan pertemuan keduanya sarat dengan dialog bermutu, berkelas dan berkarakter. Ia memang berhasil membebaskan perempuan Belanda itu, tetapi dari kepulauan Banda, Kalek terus menghantui Jakarta dengan misteri pembunuhan. Lewat pesan rahasia dalam kode waktu Nias, Kalek mengirimkan pesan pada Lalat Merah. Pada saat misteri demi misteri terungkap, semakin jelaslah bahwa semuanya berpusat pada apa yang tengah dicari oleh perempuan Belanda ini, harta karun VOC.
Tidak hanya kaya dengan plot, Rahasia Meede juga kaya dalam setting-an. Dalam ruang, ia seenaknya leluasa memindahkan cerita dari Amsterdam, Jakarta, Boven Digoel, Mentawai, Banda Neira atau pelabuhan Paotere di Makassar. Dalam waktu, ITO mengaduk-ngaduk otak kita, ia detail menjelaskan sosok Phoa Beng Gan dan pembangunan Gracht pada masa awal kolonial Belanda. Dengan cerdik ia menjadikan peristiwa pemberontakan Pieter Erberveld pada tahun 1721 yang jarang terungkap menjadi sentrum cerita. Ia terus bermain dengan waktu menghubungkan Surat Kew yang dikeluarkan William V pada tahun 1795 sebagai pangkal misteri terhubung penyerahan kedaulatan tahun 1949. ITO menelanjangi VOC dengan logika sejarah yang sempurna. Mungkin itu sebabnya Dr Harry A. Poeze (Direktur Penerbitan KITLV Leiden) menyebut Rahasia Meede sejalan dengan aliran baru sastra dunia. Kita dibawa melompat pada masa VOC, lalu revolusi Indonesia dan tiba-tiba ada di masa kini.
Tetapi ITO tidak ingin mengamankan diri dengan mengaduk-ngaduk masa lampau saja. Ia juga menantang masa sekarang dengan segala sinisme dan bahasa yang terkadang sarkastik. Ia menjadikan Dom Perignon sebagai metafora Suharto. Mendifiniskan elit Indonesia lewat tujuh dosa sosial Gandhi. Menyindir agama impor yang destruktif di pedalaman Indonesia. Ia jelas menertawakan watak manusia Indonesia yang gamang menghadapi masa silam tetapi penuh euforia menyambut segala sesuatu yang baru. Ia mencibir demokrasi, menghina keterwakilan dan menyebut parlemen sebagai badut. ITO meradang penuh emosi menghantam orang-orang yang menyerukan pembauran tetapi menista suku-suku pedalaman. Ia mengangkat tradisi tato Mentawai, akar filosofis Phinisi Makassar, kode waktu dari Nias, pasukan rahasia Kakehan dari Seram, pesan magis Dayak Ngaju serta ketakutan orang pada tentara di Papua. ITO ingin menunjukkan Indonesia yang terjebak dalam agresi bangsa sendiri.
Mungkin yang kurang mengenakkan adalah penyelesaian konflik yang terburu-buru. Ada kesan ITO ingin cepat menyelesaikan ceritanya yang tebal ini. Tetapi untunglah ITO menutupnya dengan Epilog yang indah berlatarkan Dam Square di Amsterdam. Dalam Rahasia Meede, ITO menunjukkan keyakinan semata tidak cukup menjadi alat perjuangan. Spirit itu perlu didukung dengan kecerdasan yang berakar pada nilai-nilai tradisional bangsa. ITO benar-benar menunjukkan kegerahannya pada budaya yang terus berakar pada modernisme Jakarta. Ia mencibir kekinian.
Fadjroel Rachman menyebut ITO sebagai Pram muda yang telah lahir. Tetapi menurut saya, keduanya tidak perlu diperbandingkan. Biarkan ITO membangun kemegahannya sendiri. Untuk saat ini, ES ITO jelas seorang Master Thriller Sejarah. ( pernah dimuat pada majalah gatra)
