Oleh: Sabri | Oktober 4, 2007

E.S. ITO, Rahasia Meede, dan Gelisah.

Rahasia Meede

E.S. ITO, Rahasia Meede, dan Gelisah.

by; mift ns

Saya punya sahabat lama, namanya fani, almarhum ibunya seorangh sastrawati. Ketika kami SMA dulu, sang ibu sering sekali menjenguk kami ke asrama SMA saya di kaki gunung merapi. Membawakan sepotong dua potong roti, sambil mengepul ngepulkan asap rokoknya beliau sering mencuri tidur di tilam kawanku fani.

Suatu ketika, ia memanggilku, “Mift, mama ada satu bait puisi, kamu pasti suka” kata beliau. Dan Mama Fani, sahabatku, memberikan secarik kertas. Di sana tertulis:

Gelisah

Biarkan aku gelisah

karena gelisah ini

lebih indah

sari jiwa yang hampa

(**)

Singkat, dalam, penuh makna. Aku mengamininya. Memegang bait itu hingga kini, dan kerap mengutipnya jika bertemu kerabat, kawan, handai tolan yang dilanda gelisah.Ya gelisah, lebih indah dari jiwa yang hampa.

Dalam karya keduanya ini, E.S ITO kembali mengingatkan saya pada bait singkat pemberian almarhumah mama teman lama. Dalam setiap karyanya, novelis, penyair, dan satrawan generasi baru Indonesia ini selalu meneriakkan kegelisahan. Dia tidak ingin generasinya hampa. Karena hampa itu berarti diam. Diam berarti busuk. Busuk berarti membawa penyakit pada generasi. 

Rahasia Meede. Demikian Ito memberi judul novel keduanya. Menguak banyak rahasia, fakta sejarah, dan ajakan untuk tidak pernah hampa pada generasinya. Saya paham dan tahu betul seluk beluk riset yang ia lakukan dua tahun penuh untuk merampungkan novel ini. Petualangannya menguak “cuak” di Aceh hingga penelurusannya ke pedalaman Papua. Mendalami Nias, Mentawai, Arsip Emas kolonial, Hingga Seluk beluk Banda. Merombak cerita hingga tiga kali(atau bahkan empat kali?), baru menuliskannya. Satu sisi ekstrim jalan hidup, menjadi “penulis” serius yang dipilihnya.

Memilih jalan anak tuhan, begitu mungkin personifikasi diri yang intrinsik ia harapkan, dan ia selipkan dalam novelnya ini. Jalan yang berbeda dengan generasi penulis yang lagi “trend” sekarang, penulis ciklit, dengan mengutak atik imajenasi, dalam “enam minggu” dan seketika jadi buku laris. Menjual hedonisme. Melupakan sejarah, mengalpakan masa depan. Dan tiba tiba menjadi penulis tenar, harum, dan tersohor.

Ito. Ia kembali tetap menjadi Ito yang ia sukai. Profilnya hanya : Lahir 1981, Ayah pedagang, Ibu petani. Tanpa heharuman. Tanpa embel-embel.

Namun DR Poeze mengakuinya sebagai sastrawan Indonesia baru untuk dunia, fajroel dan de rantau memanggilnya Pram Muda, meskipun Budiman lupa menyebutnya sedahsyat Gorky. Effendi Gazali menyebutnya penulis inovator. Piliang menggelarinya penulis tambo moderen. Filsuf Gahral Adian menyejajarkannya menjadi Dan Brown. Bahkan, seniornya di kampus, Ekonom Chatib “dede” Basri, mengakui riset serius dan detail adek kelasnya ini membuatnya lebih dari sekedar aplikasi dari nilai ketelitian Luca Pacioli, sang penemu penulisan “debit” “kredit” akuntansi moderen.

Rahasia Meede, kembali membakar saya, untuk meneriakkan potong generasi di semua lini kehidupan Indonesia untuk sekarang demi menyelamatkan masa depan. Rahasia Meede menyemengati kembali kelarutan saya pada keseharian untuk kembali pada cita-cita idealisme.

Singkatnya. Semesta Indonesia Mesti Membaca Rahasia Meede. Dan Gairah Menuntaskan Rasa Ingin Tahu, Sebagai parasya rat kemajuan, akan terpenuhi.

Bravo Ito.

NB: Maaf To, sengaja aku sisipkan satu satunya fotomu di tulisan ku ini. Begitu banyak orang ingin tahu siapa dirimu. Aku tak kuasa menahannya. Ya minimal, untuk mereka akan bertanya padamu tentang nusantara, jika berpapasan denganmu di metro mini, atau di kerata Jakarta-Bogor.


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori