Tan, Munir dan Kematian Politik
by: mift ns
HUT kemerdekaan Indonesia ke 62 tahun ini mendapat kado istimewa, buku setebal 2000 an halaman, karya DR Hary Poeze, berjudul “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1949″ (Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949).. Yang ditujukan pada Tan. Bukan Tan Peng Liang, tokoh dalam novelnya Remy Silado. Tapi Tan Malaka. Satu dari beberapa bapak bangsa kita, seorang Bapak republik.
Yang menarik dari karya Poeze adalah, terkuaknya kematian Tan Malaka. Tan dibunuh, oleh saudaranya sesama anak bangsa yang sama sama dicitakannya merdeka. Tan dibunuh oleh negaranya, dibunuh oleh republik.
Misteri kematian Tan ini, tiba tiba mengingatkan saya pada begitu banyak kematian.Yang bergelayut dalam pikiran ini adalah pikiiran tentang kematian Baharudin Lopa yang misterius di Arab saudi, setelah ia begitu kencang menyabit para koruptor, Kematian Agus Wirahadikusumah yang tiba-tiba setelah secara jantan membongkar korupsi di tubuh kostrad, dan kematian Munir, aktivis HAM, ketika hendak melanjutkan sekolah ke negeri penjajah nusantara, yang juga punya catatan sejarah hitam dalam pelanggaran hak asasi kemanusiaan, Belanda.
Untuk yang pertama dan kedua, saya sampai hari ini, sebagaimana selalu dalam diskusi-diskusi di kampus yang mencurigai kematian ini, memang tidak mempunyai bukti empiris apapun, selain kasak kusuk, dan analisis liar a la kantin kampus. Namun untuk kematian yang terakhir, Munir bernasib serupa dengan Tan agaknya. Ia dibunuh oleh negara, oleh bangsanya sendiri.
Sebagaimana Tan yang dibunuh oleh Negara. Dalam hemat saya ke depan, pembunuh Munir baru akan diketahui setelah ia (pembunuh) itu mati, jauh ketika zaman dan generasi ini berganti. Munir akan menjadi “Pahlawan”, ia akan di-Patung-kan, di depan kantor KONTRAS/IMPARSIAL mungkin. Pahlawan penegak dan pejuang HAM Indonesia. Poly, atau pejabat BIN manapun, yang dituduh, tertuduh, dan dipaksakan menjadi tertuduh, tidak akan pernah menutup hayatnya sebagai pembunuh pahlawan. Tidak! Yang membunuh Munir, sebagaimana Tan, adalah Negara! Oleh karena itu maruahnya perlu selalu dijaga. Membunuh karena tugas negara tentunya adalah Pahlawan, dan tidak mungkin pahlawan membunuh pahlawan.
Percayalah pada saya. Negara kita belum sedemokratis yang dipuja dunia. Demokratisasi, keterbukaan politik, kebebasan, reformasi, atau apapun namanya yang menjadi jargon anak dan politisi jaman sekarang, tidak akan bisa menguak pembunuh Munir. Kenapa tidak, lha wong pembunuh Tan saja baru ketauan sekarang, tahun 2007, setelah kematiannya di tahun 1949. Kematian itu pun juga dengan garis bawah, perintah pembunuhan “atas inisiatif sendiri”, bukan perintah komando! Karena begitu “kacau” nya situasi revolusi. Berarti cerita tentang pembunuh Munir pun agaknya akan menjadi serups. Baru terbuka 58 tahun ke depan. Ketika “pembunuh” sebenarnya sudah pula saling bercengkrama dengan Munir di alam sana, dan mereka sudah saling bermaaf-maafan. Dan dengan catatan: pembunuhan atas inisiatif sendiri, tanpa komando dan tanggungjawab hirarkis.
Munir pun akan bernasib sama dengan Tan. Menjadi bahan kajian sejawaran. Menjadi telaah ratusan skripsi, tesis, dan disertasi. Setiap tahun akan dibahas menjadi liputan khusus majalah, koran, dan jurnal-jurnal pada seputar bulan kematiannya. Selalu muncul ke alam kehidupan, dan mengingatkan orang akan pentingnya kebebasan dalam kemanusiaan.
Munir akan seperti Tan, menjadi Pusat Kajian, Pusat Penelitian. Munir akan di-patung-kan menjadi pahlawan, namanya disebut-sebut abadi, menginspirasi begitu banyak anak muda, menginspirasi begitu banyak perlawanan-perlawanan, yang mungkin tidak akan pernah pula terjadi jika ia mati dengan secara alamiah, sakit dihari tua, mati di ujung keuzuran. Ia akan menjadi nama Jalan. Di malang, di Madura, atau di mana Munir sempat tinggal di gank sempit Jakarta.
Kita lihat saja nanti. Apa yang akan terjadi. Yang jelas, nama-nama seperti Hendropriyono, Muchdi PR, Polycarpus, akankah menjadi sama dengan Soedarsono, Sungkono dan Surahman dalam legenda Tan? Ayo sejawaran. Catatlah! Untuk bukumu 50 tahun lagi, tepat 125 atau 150 tahun umur republik, Judulnya Munir, Dibunuh dan (untuk)v Diperingati.