Oleh: Sabri | September 29, 2006

Rudy, Wir,Bowo, Harmoko dan Srimulat

Rudy, Wir,Bowo, Harmoko dan Srimulat

oleh: mift

Ada orang yang melebih lebihkan peranan pelaku dalam suatu periode sejarah. Dan orang ini dianggap persona penindas struktur. Mereka kata filsuf heri priyono, ibarat srimulat. Terlampau banyak berimprovisasi sana sini, sehingga lawakan yang semula segar, sontak bisa tiba tiba jadi membosankan. Sementara, di lain pihak ada pula yang pesimis, bahwa persona itu non grata! Ia tidak mesti harus ”seseorang”. Siapapun ia, kalau memang sudah kondisi sejarah memaksanya berbuat sesuatu yang niscaya pasti akan melakukan hal hal yang sudah dideterminasi struktur. Mereka adalah ibarat Harmoko dengan sambutannya yang selalu ’menurut arahan bapak presiden”. Ketika struktur menjajah persona, maka mereka membosankan bahkan memalukan. Atau, kata anak sekarang: garing!

Begitulah kerap sejarah ditulis dan diperdebatkan! Di satu sisi begitu banyak sejarah ditulis terlampau srimulat, yang personasentris, dan sejarah berada di alter ego. Dan di sisi lain struktur, meliputi semangat zaman dan eksternalitas seolah tidak (pernah) dianggap ada, padahal seorang bertindak pasti karena lingkungan dan pengaruh sekitarnya. Maka hendaknya, jangan pisahkan keduangya, begitu pesan Giddens (1984) selalulah lihat sejarah dalam interaksi keduanya, struktura dan persona. Jadikanklah ia, harmoko yang bermain srimulat. Dia bebas berimprovisasi, namun ingat, tetap ada kondisi ia tidak boleh begini begitu, karena ia tetap dalam koridor “menurut arahan bapak presiden”.

Demikianlah hendaknya kita melihat ketiga tokoh kunci kita ini. Rudy, Wir, dan Bowo. Dua jendral satu profesor.yang tiba tiba kembali ke panggung berita. Rudy lewat bukunya “detik detik terakhir”, seolah ingin menyaingi Wir lewat “bersaksi di tengah badai”, dan Bowo lewat “politik huru hara 1998”(yang meskipun tidak ia tulis langsung, namun ditulis oleh sahabat karibnya, fadli zon). Yang bernuansa kesaksian dan pembelaan, dan dalam beberapa kesempatan, masuk dalam perangkap srimulat, dirinya seolah segalanya dalam kekuasaan di tangan, dan eksternalitas menjadi anomi.

Rudy ( Baharudin Yusuf Habibi), menggemparkan publik Indonesia dua minggu belakang. Ia membuktikan kepada kita kembali, betapa kekuasaan adalah sesuatu yang seksi, sehingga pemberitaan tentang peran sentralnya seputar kekuasaan, sebagaimaana ia utarakan dalam bukunya, memperoleh tempat lebih banyak dalam pemberitaan media dibanding cerita derita tentang lumpur panas yang menenggelamkan ribuan harapan anak republik. Begitu banyak hikmah dalam bukunya yang laris manis di pasaran sehingga harus segera dicetak ulang, namun yang memuncak justru hikmah dalam kesaksiannya seputar indikasi kup Jendral Prabowo, Pangkostrad ketika itu. Dan Bowo, yang memutuskan untuk “sementara” puasa politik dan mengurus petani lewat HKTI, mengurus lelang pabrik bubur kertas dengan ribuan karyawan, dan beberapa bisnis energi, “terpaksa” angkat bicara. Dan tentu saja, ia membantah tuduhan kudeta tersebut.

Bagi Bowo, justru tuduhan itu lah yang serasa naif, dirinya, justru ingin menjaga presiden habibi dan memberikan dukungan penuh, namun tiba tiba presiden yang ia ingin selamatkan, malah memecatnya. Justru sekejap, bintang masa depan tentara nasional ketika itu, tiba tiba redup, dan hilang. Sebelum matahari terbenam, ia dipecat, dalam beberapa hitungan bulan kemudian, ia tidak lagi tentara, bintang di pundak menjadi gemintang di langit. Di beberapa wawancara televisi, Bowo bersaksi justru suatu ketika di hamburg pada 2004, rudy langsung yang bersaksi padanya, bahwa pemecatannya pada bowo tempo hari adalah karena desakan “super power”, bukan karena yang lain.

Sebuah kesaksian yang berpretensi menenangkan bowo, dengan pilihan tumbal yang paling efektif dan efisien, super power yang begitu absurd. Sehingga bisa saja, prasangka bowo pada wir jadi hilang, karena senasib sepenanggungan, korban black campign super power. Bowo meradang, pekan lalu, di paruh akhir 2006, dalam sebuah buku, fakta itu justru tidak muncul dalam buku rudy. Rudy mengeksklusi kesaksian hamburg-nya, dan berkesaksian yang justru berbeda ekstrim, ibarat moncong meriam yang dituduhkan dihadapkan padanya ke istana ketika itu, ia bersaksi bahwa melaporkan bowo terindikasi menggerakkan kudeta. Rudy menonjolkan suatu kemungkinan fakta, dan menutup kemungkinan yang lain. Bowo minta bertemu rudy, idolanya, meminta bertemu, dan bahkan merevisi buku tersebut. Karena ia khawatir, akan masuk dalam peran antagonis sejarah yang mencoreng nama besar Djoyohadikusumo. Namun Habibi diam tak bergeming. Cetakan kedua sebanyak 20.000 buku lagi disiapkan segera untuk dilempar ke pasar yang antusias.

 

 

Dan wir, sejauh ini diam diam saja. Padahal kalau wir angkat bicara. Masalah bisa menjadi lebih jernih. Ada apa dibalik laporan kudeta atas bowo pada Rudy? Siapa? Dengan mekanisme laporan apa laporan itu masuk? Kalau ia beritikad baik, mengapa tidak langsung turun ke lapangan dan menegur bowo? Bukankah bowo “hanya” pangkostrad, sementara ia panglima. Mengapa harus merepotkan rudy yang sudah begitu pusing dengan sejuta permasalahan yang ditujukan masyarakat yang trauma di pundakny? Bukankah dengan komandonya semua menjadi lebih beres? Namun disinilah titik sentral penulisan sejarah tersebut bermula. Justru dalam bukunya bersaksi di tengah badai, ini sama sekali tak diterangkannya. Padahal jika benar, ini tentunya fakta krusial selama ia menjabat. Seorang tokoh akan selalu mengedepankan apa yang disebutnya heroisme. Dan disamping pahlawan ada yang harus dibenci secara kolektif, sehingga ia dipelajari penerus sebagai pengkhianat yang tak perlu ditiru. Tokoh akan menjadi persona penjajah struktur. Dan bila namanya menyejarah, maka ialah pahlawan, yang lain pecundang.

Pun jika Jendral Wir, angkat bicara, tetap saja ia berada dalam tapal batas begitu banyak rahasia yang tak kan mau ia buka. Karena apa? Ia harus jujur mengapa harus memecat bowo, apakah karena nyata nyata insubordinasi? Atau justru menjadikan bowo sekedar tumbal bagi institusi ABRI secara keseluruhan ketika itu? Ia harus jujur mengapa ia mau jadi calon presiden. Ia harus jujur apa tujuannya menepuk pundak rudy di istiqlal. Dan yang lebih penting, akankah ia jujur atas konflik internal tentara yang sudah begitu mengental ketika itu, dan nyata nyata adalah ancaman bagi dirinya.

Namun tetap saja. Objektifitas seorang pelaku, tidak bisa diukur dari kesaksiannya. Ia harus divalidasi silang. Karena dalam sejarah, ternyata tidak ada yang memilih untuk menjadi harmoko bermain srimulat, tidak akan ada penonton. Mereka lebih suka main srimulat. Biar garing, tetap saja membuat banyak penduduk seantero jawa terpingkal pingkal.Begitulah akhirnya sejarah. Sebenarnya hanya satu noktah dalam kelabat titik hitam.

 

 

 

 

 


 

 


Tanggapan

  1. Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori